2.17.2011

Once Upon A Time In The Mosque


Hanya tartil dari sepotong ayat Al quran saja,
Tapi lembutnya sudah seperti tembakan senjata,
Hentakkan rasa kagum di dalam dada,

Buatku sedikit koma dan enggan bicara.


Hufh...sungguh hari yang sibuk lagi menyibukkan, memang sudah biasa bahwa dalam satu atau dua bulan ada kalanya muncul satu hari dimana pekerjaan menumpuk dan dengan tenggat dead line yang tidak masuk akal. Hari itu Walaupun AC masih menyala dengan baik tapi ruangan masih akan terasa panas, sumpek plus bising hingga suara adzan yang biasnya terdengar nyaring akan lenyap di telan keriuhan ketukan keyboard diatas meja. Ada muka-muka jutek dan lesu minta ampun berseliweran dimana-mana, jadi jangan coba-coba memperkeruh keadaan apalagi memancing di air galon, karena ga bakalan ada ikannya choy....hahhaa.. :P


Telah lewat beberapa menit dari jam kerja, namun ruang kantor belum tampak akan mengsongkan dirinya. Semua seakan terlena, larut dalam atmosfir kesibukan kerja. Jikalau tak ada jam diding yang nempel di dinding (ya dimana lagi la klo bukan di dinding...ngaco.com) mungkin hari itu kami tak akan sadar kalau waktu ashar sudah masuk. Yeah...sudah saatnya melapor pada sang Khalik n make a wish ofcourse.

Mengikuti seorang teman, saya turut melewati jalan pulang yang berbeda dari biasanya, rencananya kita bakalan shalat di sebuah mesjid di pinggiran kota. Mesjid itu tak jauh berbeda dari mesjid kebanyakan lainnya, berbagai ornamen menempel di dinding dan dengan mihrab yang sedikit menjorok kedalam berikut podium khotbahya. Hanya saja terasa agak lebih adem walaupun jejeran kipas dilangit-langit telah lama dinonaktifkan. Hmmm..mungkin karena dibangun di kawasan yang banyak pohonnya dan jauh dari polusi jalanan. Sayup sayup sampai dari balik tabir terdengar pelan seseorang sedang membaca Al quran, sangat pelan, dengan irama yang sederhana namun temponya sangat teratur......mengesankan...sangat mengesankan.....
So how could it be???

****


Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
(surat Al-Muzammil ayat 4)

“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.”
(HR: Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim)


Mencoba mengambil ibroh dari ayat dan hadist diatas serta mengaitkannya dengan peristiwa yang telah terjadi di TKP, saya melihat ada salah dengan persepsi yang tumbuh bersama kita selama ini. Mungkin pertanyaan yang sesuai bukan cuma: berapa juz? berapa lembar? atau berapa ayat? yang telah dan mesti kita baca tiap hari. Kenapa? karena itu semua hanya merujuk pada kuantitas bacaan bukan kualitasnya. Adalah sangat penting bagi kita membaca Al-quran dengan perlahan-lahan (tartil), melantunkannya dengan kerendahan hati supaya betul makhrajnya serta didapatkan kekhusyukannya. Ada baiknya bila kita mencontoh pada para sahabat yang juga tidak tergesa-gesa dalam membaca Al-quran, sebagaimana Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit yang memilih mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu, walaupun mereka bisa menuntaskannya dalam waktu yang lebih pendek. Dan rasa-rasanya juga tak mungkinkan menikmati keindahan bacaan Al-quran dengan tempo irama yang sangat cepat, apalagi memahaminya.....Wallahualam bissawab...

P.S.: Sebelumnya sepotong sajak diatas pernah saya gunakan sebagai status di Facebook dan yang paling saya ingat ada satu orang yang berkomentar. "Makhluk sejenis apa yang lembut suaranya???...aaaaa.....hahaha *blushing

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More