Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

7.03.2014

Peringatan

Jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada 
dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

oleh Wiji Thukul,1986

11.18.2011

Senja Untukmu


...Kurasa memang ini batasmu
Tertatih-tatih di titian waktu
  Tersedu-sedu di samarnya bisu
Seperti mendung hujan tak mampu


"Untuk itu,
Sini..duduklah sebentar dahulu
Bincangkan smua yang buatmu pilu
Atau ragu yang buat lidahmu kelu
Sampai hilang siang, kutemani dirimu

"Sebagai gantinya,
Kan ku bongkar kanopi langit biru
Agar menyeruak megah rona jinggaku
Nan menyirah tembus awan kelabu
Bakar membara kesegala penjuru

"Sekiranya usai,
Maka bawa mimpi senjaku ini
Berikut igau nya angin menderu
Dan biarkan lelahmu terhenti
Hingga lelap dalam sajakku


Nopember 18, 2011

8.04.2011

Puisi-puisi Soe Hok Gie

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.
lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu
manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Selasa, 1 April 1969



MANDALAWANGI PANGRANGO

Sendja ini, ketika matahari turun kedalam djurang2mu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbitjara tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.
Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja
“Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
“Terimalah dan hadapilah.”
Dan antara ransel2 kosong dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 djurangmu.
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta, 19-7-1966

Pesan

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang kera
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Sinar Harapan 18 Agustus 1973


Puisi Terakhir

Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biavra
Tapi aku ingin mati disisimu sayangku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya, 
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tetapi mati muda
Dan yang tersial adalah bermur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

4.25.2011

I Write The Song


Candice..i really want's to write a song,
The song that will we singing along,
But it's not about any wars,
Cause we already have many scars.

umm....lyrics bout my cheers,
That i founded in this years,
And now i write it into the song,
Something i promise for so long,

There is the time with million stars,
Where you see me as the mars,
n That night u distracted my mind,
"a single sight and a thousand sign".

I'm already in dilemma anyway,
Don't know what should to say,
argh...cupid punch too hard to this chest,
leave a difficult question as the test.

I know it's not all u wanna hear,
i'm skipped many, including that tears,
But still, i write down this song,
Until the time when we sing it along.

***

2.24.2011

Tepian Berpasir (Sajak 3 Kumpulan)


Ayo..
Sedikit lagi ke tepian berpasir,
Menuju kumpulan bebatuan besar,
Pantai dengan angin yang mendesir,
Nan langit senjanya jingga bersinar.

Dan Tahukah kau...

2.02.2011

Birokrat Sakit





Biar ku perdengarkan padamu sebuah kritik 
Birokrat Sakit“:
Pada birokrasi nan hipokrit,
Mempersulit orang cuman karena sandal jepit,
Tak sadar mereka rakyat hidupnya terjepit,
Dengan banyak hutang yang membelit.

Senja itu tak lama



Saat jemariku mencengkram dalam,
Sejumput pasir mengisi sela-selanya,
Terdengar ombak deburkan suasana,
Menelan smua yang bersuara.


Terlihat sosok bijih kelapa tua,
Tersesat jauh d tengah samudra,
Diam dia entah mengapa,
Mungkin kagum melihat senja.


“Harusnya kau menetap saja disini,
Bukannya minggat jauh ke sana,
Bersahabat dgn hitam kelam dunia”,
Pintaku pada senja yg mulai sirna.


Sadarku ini ilusi karna rindu
Hingga harapkan semua hal yg semu
Dan amat sangat mustahil bagiku,
Tuk slalu miliki keindahanmu.


***

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More